Being Assertive

Tidak semua orang mampu tegas, iya pernah seorang teman dalam sela – sela percakapan sore mengungkapkan semua uneg – unegnya tentang pekerjaannya. Kerja yang overtime, underpaid, tuntutan atasan yang keras, kerjaan yang menumpuk, rasanya gak tahan atas semua yang dilakukan di kantor tersebut, tapi anehnya dia tetap bertahan dengan semua itu, seakan tidak punya pilihan walaupun sebenarnya selalu ada pilihan. Kenapa kalau tidak suka tetap dilakuin, kenapa tidak pindah kerja saja ke tempat yang menurut dia nyaman dan lebih baik.

Sedikit pembuka cerita diatas kadang beberapa dari kita pernah merasa seperti itu, iya mungkin termasuk aku, dimana banyak orang lain yang berani pergi dan berkata tidak, mendapatkan jalan hidup yang jelas dan bahagia. “Tidak suka ya tidak dilakuin…” itu kata mereka, namun sekali lagi tidak semua orang mampu tegas. Ketika aku tanya alasan seorang teman kenapa masih bertahan disana, banyak alasan mulai dari belum ada pekerjaan pengganti, masih bergantung incentive atau bonus yang mungkin akan dia dapatkan jika ia mampu bertahan, atau merasa tidak enak terhadap rekan dan tempat kerja disana.

Disisi lain aku punya teman yang menurutku orang yang cukup assertive terhadap sesuatu, aku memperhatikan beberapa dampak dari sikapnya terhadap hidupnya. Tapi menurutku temenku yang satu ini rentan mendapat masalah berhubungan dengan orang lain dengan sifat tegasnya, dia tidak bermain aman, juga tidak terlalu menjaga perasaan orang lain, tapi memang sebagian benar dan aku setuju dengan cara pandangnya. Dunia ini kejam, kita melunak, kita sendiri yang dihancurkan. Karena terkadang ketika kita berusaha menjaga perasaan orang lain agar tidak terluka, padahal mungkin mereka tidak peduli atau bahkan tidak tahu.

Kembali pada masalah bahwa semua selalu ada pilihan, berani berkata tidak atau memilih sesuatu yang baik menurut kita. Sekarang kita lihat situasi yang mungkin ada pilihan atau tidak ada pilihan, seperti memilih pekerjaan atau sekolah, itu selalu ada pilihan. Tapi ngomong aja terdengan mudah ya, ketika benar dihadapkan pada masalah serius  kadang aku juga merasa semua menjadi tidak ada pilihan. Mungkin ini ada hubungannya dengan disorder yang tak miliki Avoidant.

Dari banyak pengalamanku sendiri, takut mengambil keputusan sesuai apa yang kita inginkan biasanya membawa masalah di akhir – akhir, iya penyesalan. Aku memberi opini berdasarkan sudut pandang si lemah, untuk orang yang tegas menurutnya bersikap seperti itu hanya merugikan diri sendiri dimana insting manusia untuk bertahan hidup ya berusaha menghilangkan kesakitan sebanyak – banyaknya.

Pekerjaan adalah sesuatu yang akan dilakukan dalam jangka panjang, apalagi aku sebagai laki – laki tentu saja ini pertaruhan yang besar jika memilih sesuatu yang tidak aku suka dari awal. Bekerja sesuai passion akan memberikan semangat dan energi, seberapapun tantangan datang dan pastinya akan datang bisa menjadi sebuah hal baru yang menarik untuk ditaklukkan. Tapi yah pola pikir manusia juga berubah seiring bertambahnya usia. Kadang passion dihajar oleh kenyataan hidup yang membuat kita pasrah terhadap masalah yang dihadapi saat ini, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, tapi tidak semua orang mampu tegas.

Passion is needed for any great work, and for the revolution, passion and audacity are required in big doses.

– Che Guevara

Satu pemikiran pada “Being Assertive

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s