Sistem Informasi Database Penentu Kualitas Kakao

Sistem Informasi Database

Penentu Kualitas Kakao

Agroindustri Modern


Oleh : Angga Ari Wijaya

N.I.M : 102410101070

Program Studi Sistem Informasi

Universitas Jember

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Tentang Kakao

    Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ke-3 dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah cokelat. Cokelat dihasilkan dari biji buah kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan sehingga bentuk dan aromanya seperti yang terdapat di pasaran. Biji buah kakao (cokelat) yang telah difermentasi dijadikan serbuk yang disebut cokelat bubuk. Cokelat dalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti susu, selai, roti, dan lain–lain. Buah cokelat yang tanpa biji dapat difermentasi untuk dijadikan pakan ternak.

    Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

  2. Kondisi Produksi dan Pasar

    Semakin berkembangnya pasar dari hasil produksi kakao saat ini menjadikan sebuah ajang persaingan yang ketat antar perusahaan dalam menawarkan kakao yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen saat ini, salah satu penentu keberhasilan produk sesuai dengan yang diinginkan adalah pemilihan biji kakao yang cocok untuk memproduksi produk tertentu dan membuat kelas produk agar pasar lebih bervariasi dan konsumen dapat menentukan apa yang ingin dibeli berdasarkan harga banding kualitas. Dalam penentuan kualitas biji kakao yang dijual untuk diolah menjadi produk tertentu telah digolongkan oleh Badan Standar Nasional (SNI), untuk memenuhi grade tersebut perusahaan perlu menentukan kualitas secara sempurna agar terdapat presisi grading yang mendekati sempurna. Untuk saat ini gradiang dilakukan berdasrkan sampel tertentu dan masih menggunakan manusia untuk mencatat dan membuat laporan hasil kualitas yang sangat banyak , seperti halnya dalam laporan bahan baku yang masuk, pentingnya data grading adalah menjaga agar sebuah perusahaan dapat membuat manajemen kualitas yang membantu dalam marketing dan pengambilan keputusan untuk produksi selanjutnya.

BAB II

SISTEM PENENTU DATABASE

KUALITAS KAKAO

  1. Tentang Sistem

    Dalam pengembangannya untuk berbagai macam jenis makanan maka diperlukan penggolongan atau grading biji kakao tersebut, pemilihan kualitas kakao berdasarkan standar nasional untuk mendapatlan kriteria yang cocok untuk keperluan industri, seiiring perkembangan teknologi, tidak ada salahnya pengembangannya memanfaatkan sistem informasi yang sangat membantu dalam manajemen waktu dan presisi perhitungan yang sesuai. Dismping itu penggunaan system informasi juga dapat mengcover kebutuhan hardware sebagai kalibrasi dan software sebagai penentu logika dan database yang akan dibangun sehingga dapat menghasilkan laporan untuk dapat membantu dalam pengambilan keputusan.

    System penentu kualitas kakao ini terdiri dari hardware dan software, kemampuan software adalah untuk membangun database hasil dari grading yang dilakukan oleh hardware atau manusia, database ini yang akan menjadi output dari system. System ini mampu mencatat secara otomatis grade kakao dari gradeAA, gradeA, gradeB, gradeC dan yang ditolak oleh perusahaan karena tidak memenuhi standar pasar, system ini mampu menyeleksi berdasarkan variable yang akan dijadikan penentu kualitasnya yaitu kadar air dari biji, kotoran, biji/100gr dan banyaknya jamur, semuanya dapat dinilai dari presentase besarnya variable/besarnya biji, penentuan kualitas dilakukan dengan menggabungkan hasil pengukuran dari keempat variable tersebut. System ini juga akan menghitung berapa jumlah kakao yang memiliki grade tertentu dan menggabungkan / mereka dalam database dari perhitungan setiap hari.

  2. Pembangungan dan Aplikasi Sistem

    Pembangunan system ini difokuskan pada perancangan database hasil laporan kualitas kakao yang dalam jumlah banyak akan merepotkan jika ditangani oleh catatan manual. Pembentukan database dilakukan oleh sebuah komputer operator yang menangani penentuan kualitas yang berjalan otomatis, kemudian data dari computer operator dsalin pada computer backup untuk menjaga data agar aman dari kerusakan peralatan yang ada. Data kualitas bersumber dari empat bagian utama penentu kualitas berdasarkan variabel – variabel yaitu yang pertama menentukan kadar air, kemudian bagian kedua menentukan kadar kotoran, kemudian ketiga menentukan biji/100gr kemudian bagian terakhir menetukan jumlah jamur. Setelah keempat proses penentuan ini didapat informasi yang akan diolah untuk menentukan kualitas kakao dengan syarat – syarat tertentu. Variabel dan syarat kualitas terdapat pada tabel Spesifikasi Standar Kualitas Nasionan (SNI).

    1. Variabel Dan Penentu Kualitas

      Penentu Grade kakao dilakukan bedasarkan standar yang telah ada, variable – variable yang didapatkan adalah sebagai berikut :

    Tabel : Spesifikasi Standar Kualitas Nasional (SNI)

    Tabel diatas
    merupakan standar pasar biji kakao menurut Standar Kualitas Nasional, penentuan nilai gradeAA
    sampai ditolak diukur berdasarkan kesesuaiaan nilai yang didapat setelah pengukuran dengan nilai tabel diatas.

    Variabel Grade dalam Sistem

  • varGrade AA
  • varGrade A
  • varGrade B
  • varGrade C
  • varDitolak

Kebutuhan Alat dan Operasional

  • 1 komputer utama dan operator
  • 1 komputer server/backup data dari computer operator
  • Jalur data seperti kabel atau wireless
  • Bahan baku (KAKAO)
  • Penentu Kualitas : Neraca digital
  • Penentu kualitas : Hygrometer sensor SHT11 Module
  • Penentu Kualitas : Sensor Pemilihan Warna
  • Penentu Kualitas : alat Labolatorium sampel Jamur
  • Operator penentu kualitas, jumlah tergantung kebutuhan
  1. Operasional Sistem

Dalam system penentu kualitas kakao ini dibagi dalam 3 proses besar yaitu input, proses dan output yang digambarkan secara sederhana sebagai berikut.

System ini menggantikan variable grade menjadi nilai yang akan dihitung sebagai representasi kualitas setiap bagian dan menggabungkan semua nilai variable untuk mendapatkan grade rata – rata dari kakao tersebut.

Ilustrasi lengkap seperti pada DFD dan gambar dibawah ini, kakao dilakukan penentuan kualitas satu persatu variabel dan setiap melewati variabel penentu maka data dapat dikirimkan ke computer operator untuk dilakukan grade apa kakao tersebut dengan syarat seperti pada tabel logika.


Ilustrasi system pembangun database kualitas kakao

Logika
System

// logika system pemilihan grade biji
// logika system pemilihan grade kadar air // logika system pemilihan grade kotoran

// logika system pemilihan grade Jamur

if(biji<=85){

varGradeAA=true;

}

if(biji>85 && biji<100){

varGradeA=true;

}

if(biji>100&&biji<110){

varGradeB=true;

}

if(biji>11=&&biji<120){

varGradeC=true;

}

else{

varDitolak=true;

}

varBiji=varGrade(true)
if(RH>6 &&RH<7){

varGradeAA=true;

}

if(RH>7 &&RH<8){

varGradeA=true;

}

if(RH==7.5){

varGradeB=true;

}

if(RH>8 &&RH<9){

varGradeC=true;

}

else{

varDitolak=true;

}

varRH=varGrade(true)
if(ktr>0% &&ktr<=1%){

varGradeAA=true;

}

if(ktr>1 &&ktr<=2){

varGradeA=true;

}

if(ktr>2&&ktr<=2.5){

varGradeB=true;

}

if(RH>2.5 &&RH<5){

varGradeC=true;

}

else{

varDitolak=true;

}

varKotoran=varGrade(true)
if(jmr>1% && jmr<=2.5){

varGradeAA=true;

}

if(jmr>0% && jmr<0.5%){

varGradeA=true;

}

if(jmr>3% && <jmr<=4%){

varGradeB=true;

}

if(jmr>4% && jmr<4.5%){

varGradeC=true;

}

else{

varDitolak=true;

}

vaJamur=varGrade(true)

Prioritas setiap variabel:

  • AA     = 4    ->    if(totalGrade>14)
  • A         = 3    ->    if(totalGrade<=14 && totalGrade>10)
  • B         = 2    ->    if(totalGrade<=10 && totalGrade>6)
  • C         = 1    ->    if(totalGrade<=6&& totalGrade>2)
  • Ditolak    = 0    ->    if(totalGrade<=2)

Dalam system gradeAA bernilai 4, gradeA bernilai 3, grade B bernilai 2, grade C bernilai 1 dan ditolak bernilai 0, nilai ini berlaku setiap variabel kualitas yaitu kadar air apakah mendapatkan nilai 0-4, kotoran apakah mendapatkan nilai 0-4, biji/100gr apakah mendapatkan nilai 0-4, jamur apakah mendapatkan nilai 0-4. Kemudian setelah data dari keempat variabel penentu kualitas tersebut masuk, dilakukan penjumlahan nilai dan penentu grade kakao tersebut berdasrkan nilai akhir ini yang memenuhi prioritas diatas. Misalnya hasil perhitungan sebagai berikut :

// membuat tabel system penentu kualitas

totalGrade = varRH + varKotoran + varBiji + varJamur

Grade

Kadar Air

Kotoran

Biji/100gr

Jamur

AA

True

A

True

True

True

B

C

Ditolak

Pada table diatas merupakan contoh penghitungan kualitas, nilai true pada setiap kolom dari variabel penentu merupakan nilai yang didapat dari hasil pengukuran hardware atau manusia yang menjadi data ke system database.

Kadar air     = A    ->    mendapatkan nilai 3 pada system

Kotoran     = AA    ->    mendapatkan nilai 4 pada system

Biji/100gr     = A    ->    mendapatkan nilai 3 pada system

Jamur         = A    ->    mendapatkan nilai 3 pada system

totalGrade        ->             13 poin

Total grade ini akan diuji apakah memenuhi kondisi logika prioritas. Dari contoh perhitungan diatas maka didapat grade A karena memenuhi kondisi if(totalGrade<=14 && totalGrade>10)

  1. Output System

    Hasil akhir dari system penentu kualitas kakao ini adalah database grading yang dilakukan dalam jumlah yang besar dan tertata, hasil output ini dapat digunakan sebagai presentasi kebutuhan atau hasil kakao dengan grade tertentu, pembangunan database dengan tampilan dan fitur sederhana adalah sebagai berikut :

    // membuat database jumlah kualitas kakao

Grade

Jumlah Kakao

AA

145600 biji

A

874750 biji

B

1250 biji

C

157 biji

Ditolak

12500 biji

// membuat database kualitas kakao

Kakao (kode biji)

Grade

543

A

544

C

545

B

546

B

547

Ditolak

. . . .

. . . .

. . . .

. . . .

// membuat database kualitas dalam rekap jangka waktu tertentu

Bulan

Tahun

GRADE

Total

AA

A

B

C

Ditolak

Januari

2011

34500

4550

230

350

3445

43075

Februari

2011

2360

23100

1234

1245

2410

30349

Maret

2011

34410

1243

1250

3450

3400

43753

..

..

  1. Kelebihan dan Kekurangan Sistem

    Dalam perancangan suatu system tentu masih banyak mengalami kendala karena keterbatasan informasi dan implementasi yang ada, dari sebuah ide diatas system ini bermanfaat untuk pembangunan system database tentang informasi kualitas kakao yang akan diolah sebuah perusahaan untuk menentukan variasi harga dan produk, system ini dapat menghemat waktu dan biaya dengan otomatisasi pencatatan dan backup data, dengan SDM yang tidak terlalu banyak dan butuh tenaga lebih karena pengopersian dilakukan dengan alat.

    Selain kelebihan yang ditawarkan, ide ini masih belum dapat mengcover pembuatan system yang sepenuhnya presisi karena system penentu jumlah jamur masih menggunakan sampel, karena masih belum dapat diimplementasikan alat yang dapat melakukan scaning organisme hidup dalam jumlah banyak secara otomatis dan perlunya maintaince system dan hardware computer serta butuh operator computer yang cukup ahli dalam bidang database, jaringan dan system hardware software, karena perubahan kebijakan perusahaan maka system ini juga mungkin perlu pengembangan yang lebih lanjut.

BAB III

Penutup

Dengan ide dan konsep Sistem Pembangunan Database kualitas kakao diatas diharapkan mampu diimplementsikan dan memperbaiki system yang ada serta dapat lebih efisien dengan proses otomatisasi yang didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin maju. Walaupun masih banyak kekurangan tetapi system ini mampu menjawab knsep dasar grading yang lebih modern dan selain itu pembuatan system database grading yang lebih reliabel dan efisien.

Iklan

Translasi 3D OpenGL di C++

#include <GL/glut.h>
float x=0.5, y=0.5, z=0.5;
//=======================================================
void tampilan(){
glClear(GL_COLOR_BUFFER_BIT); // Menghapus layar

glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(0,0,0);
glVertex3f(x,0,0);
glVertex3f(x,y,0);
glVertex3f(0,y,0);
glEnd();
glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(0,0,0);
glVertex3f(0,0,z);
glVertex3f(0,y,z);
glVertex3f(0,y,0);
glEnd();
glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(x,y,0);
glVertex3f(x,y,z);
glVertex3f(x,0,z);
glVertex3f(x,0,0);
glEnd();
glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(0,0,0);
glVertex3f(0,0,z);
glVertex3f(x,0,z);
glVertex3f(x,0,0);
glEnd();
glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(x,y,0);
glVertex3f(x,y,z);
glVertex3f(0,y,z);
glVertex3f(0,y,0);
glEnd();
glBegin(GL_LINE_LOOP);
glVertex3f(0,y,z);
glVertex3f(x,y,z);
glVertex3f(x,0,z);
glVertex3f(0,0,z);
glEnd();

glBegin(GL_POLYGON);
glColor3f(1,0.5,1);
glVertex2f(-0.1,-0.1);
glVertex2f(-0.5,-0.1);
glVertex2f(-0.5,-0.5);
glVertex2f(-0.1,-0.5);
glEnd();

glEnd();

Sleep(10);
glRotatef(1,0,0,1);
glRotatef(1,1,0,0);
glutPostRedisplay();

glFlush();
}

void tekanKeyboard(unsigned char key, int x, int y){
if(key==’a’)
glTranslatef(-0.5,0,0);

if(key==’d’)
glTranslatef(0.5,0,0);

if(key==’w’)
glTranslatef(0,0.5,0);

if(key==’s’)
glTranslatef(0,-0.5,0);

if(key == ‘z’)
glRotatef(5, 0, 0, 1);

if(key == ‘x’)
glRotatef(5, 1, 0, 0);

if(key == ‘c’)
glRotatef(5, 0, 1, 0);

glutPostRedisplay();
}
//=======================================================
int main(int argc, char** argv){
glutInit(&argc,argv);
glutInitWindowPosition(200,300);
glutInitWindowSize(500,500);
glutCreateWindow(“Dasar-dasar OpenGL dan glut “);
glutDisplayFunc(tampilan);
//glClearColor(1,1,1,0);
//gluOrtho2D(-250,250,-250,250);
glutKeyboardFunc(tekanKeyboard);
glutMainLoop();
return 0;
}
//=======================================================

Translasi 2D OpenGL di C++

#include <GL/glut.h>
float posisiY=0;
float posisiX=0;
bool turun = true;
bool jalan = false;
bool putar=false;
//=======================================================
void tampilan(){
glClear(GL_COLOR_BUFFER_BIT); // Menghapus layar
glBegin(GL_LINES);
glColor3f(0,1,0); // memberi warna
glVertex2f(0,-250);
glVertex2f(0,250);
glVertex2f(-250,0);
glVertex2f(250,0);
glVertex2f(250,250);
glVertex2f(-250,-250);
glVertex2f(-250,250);
glVertex2f(250,-250);
glEnd();

glBegin(GL_POLYGON);
glColor3f(1,0.5,1);
glVertex2f(posisiX,posisiY);
glVertex2f(posisiX+50,posisiY);
glVertex2f(posisiX+50,50+posisiY);
glVertex2f(posisiX,50+posisiY);
glEnd();

// timer
Sleep(20); // per 100 milidetik
if(jalan){
if(turun){
posisiY = posisiY – 5;
}
else{
posisiY = posisiY + 5;
}
}

if(posisiY == -250){
turun = false;
}
if(posisiY == 250-50){
turun = true;
}

if(putar){
glRotatef(10,0,0,10);
}

glutPostRedisplay();
glFlush();
}

void tekanKeyboard(unsigned char key, int x, int y){
if(key==’q’)
exit(0);

if(key==’w’&&posisiY<250-50)
posisiY=posisiY+50;

if(key==’s’&&posisiY>-250)
posisiY=posisiY-50;

if(key==’d’&&posisiX<250-50)
posisiX=posisiX+50;

if(key==’a’&&posisiX>-250)
posisiX=posisiX-50;

if(key == ‘j’)
jalan = true;

if(key == ‘k’)
jalan = false;

// rotasi
if(key == ‘z’){
glRotatef(90, 0, 0, -250);
}
if(key == ‘x’){
glRotatef(-10, 0, 0, 10);
}
if(key == ‘c’){
glRotatef(10, 0, 0, 0);
}

//putar
if(key == ‘p’){
putar=true;
}

//glutPostRedisplay();
}
//=======================================================
int main(int argc, char** argv){
glutInit(&argc,argv);
glutInitWindowPosition(400,200);
glutInitWindowSize(500,500);
glutCreateWindow(“Dasar-dasar OpenGL dan glut “);
glutDisplayFunc(tampilan);
glClearColor(1,1,1,0);
gluOrtho2D(-250,250,-250,250);
glutKeyboardFunc(tekanKeyboard);
glutMainLoop();
return 0;
}
//=======================================================

Menggambar Geometri Primitif OpenGL di C++

#include <GL/glut.h>

//=======================================================
void tampilan(){
glClear(GL_COLOR_BUFFER_BIT); // Menghapus layar

// membuat titik
glBegin(GL_POINTS);
glVertex2f(-200,-200); // membuat titik pada koordinat (0,0)
glEnd();

// membuat garis
glBegin(GL_LINES);
glColor3f(0,1,0); // memberi warna
glVertex2f(0,0);
glVertex2f(200,200);
glVertex2f(220,-10);
glVertex2f(220,-50);
glEnd();

// membuat
glBegin(GL_LINE_STRIP);
glColor3f(1,0,0);
glVertex2f(0,0);
glVertex2f(-100,0);
glVertex2f(-100,200);
glVertex2f(0,10);
glEnd();

glBegin(GL_LINE_LOOP);
glColor3f(0,0,1);
glVertex2f(0,-100);
glVertex2f(0,-200);
glVertex2f(-100,-200);
glVertex2f(-100,-100);
glEnd();

glBegin(GL_POLYGON);
glColor3f(1,1,0);
glVertex2f(100,0);
glColor3f(1,1,0);
glVertex2f(200,0);
glColor3f(1,0,0);
glVertex2f(180,-100);
glColor3f(0,1,0);
glVertex2f(120,-100);
glEnd();

glBegin(GL_TRIANGLES);
glVertex2f(-150,-50);
glVertex2f(-200,-80);
glVertex2f(-100,-80);
glEnd();

glBegin(GL_TRIANGLE_FAN);
glVertex2f(-240,0);
glVertex2f(-200,0);
glVertex2f(-220,50);
glEnd();

glBegin(GL_TRIANGLE_STRIP);
glColor3f(1,1,0);
glVertex2f(150,-200);
glColor3f(1,0,0);
glVertex2f(100,-200);
glColor3f(1,0,1);
glVertex2f(125,-125);
glEnd();

glBegin(GL_QUADS);
glVertex2f(0,-240);
glVertex2f(-50,-240);
glVertex2f(-50,-200);
glVertex2f(0,-200);
glEnd();

glFlush();
}
//=======================================================
int main(int argc, char** argv){
glutInit(&argc,argv);
glutInitWindowPosition(400,200);
glutInitWindowSize(500,500);
glutCreateWindow(“Dasar-dasar OpenGL dan glut “);
glutDisplayFunc(tampilan);
//glClearColor(1,1,1,0);
gluOrtho2D(-250,250,-250,250);
glutMainLoop();
return 0;
}
//=======================================================

Dasar Meggambar Menggunakan OpenGL di C++

#include <GL/glut.h>

//=======================================================
void tampilan(){
glClear(GL_COLOR_BUFFER_BIT); // Menghapus layar
glBegin(GL_POLYGON);
glColor3f(255,255,255);
//for(int i=0; i<400; i++){
glVertex2f(-0.5, 0.5);
glVertex2f(0.5, 0.5);
glVertex2f(0.5, -0.5);
glVertex2f(-0.5, -0.5);
//}
glEnd();
glBegin(GL_POINTS);
glColor3f(255,0,0);
for(int i=0; i<400; i++){
glVertex2f(0, 1.0f*i/400);
glVertex2f(0, -1.0f*i/400);
glVertex2f(1.0f*i/400, 0);
glVertex2f(-1.0f*i/400, 0);

}
glEnd();
glFlush();
}
//=======================================================
int main(int argc, char** argv){
glutInit(&argc,argv);
glutInitWindowPosition(100,100);
glutInitWindowSize(400,400);
glutCreateWindow(“Dasar-dasar OpenGL dan glut “);
glutDisplayFunc(tampilan);
glutMainLoop();
return 0;
}
//=======================================================

Super Class Persegi Panjang dan Sub Class Balok

/*
* To change this template, choose Tools | Templates
* and open the template in the editor.
*/

package superclasspersegipanjangdansubclassbalok;
// CLASS PERSEGI PANJANG
class persegiPanjang{
private int panjang,lebar;

// kontruktor 1
persegiPanjang(){
}
// kontruktor 2
persegiPanjang(int panjang, int lebar){
this.panjang=panjang;
this.lebar=lebar;
}

// mengisi nilai balok
void setPanjang(int panjang){
this.panjang=panjang;
}
void setLebar(int lebar){
this.lebar=lebar;
}

//mengambil nilai balok
int getPanjang(){
return panjang;
}
int getLebar(){
return lebar;
}

// menghitung luas
int luas(){
int luas=panjang*lebar;
return luas;
}
// menghitung skala
void skala(int perbesaran){
panjang=perbesaran*panjang;
lebar=perbesaran*lebar;
}
}

// CLASS BALOK
class balok extends persegiPanjang{
private int tinggi;

// kontruktor 1
balok(){
}
// kontrktor 2
balok(int panjang, int lebar, int tinggi){
super(panjang,lebar);
this.tinggi=tinggi;
}

// mengisi tinggi
void setTinggi(int tinggi){
this.tinggi=tinggi;
}
// mengambil tinggi
int getTinggi(){
return tinggi;
}

// menghitung luas
int luas(){
int luas=(2*getPanjang()*getLebar())+(2*getPanjang()*tinggi)+(2*getLebar()*tinggi);
return luas;
}
// menghitung skala
void skala(int perbesaran){
super.skala(perbesaran);
this.tinggi=perbesaran*tinggi;
}
// menghitung volume
int volume(){
int hasilVol=luas()*tinggi;
return hasilVol;
}

}
/**
*
* @author ANGGA
*/
public class Main {

/**
* @param args the command line arguments
*/
public static void main(String[] args) {
// TODO code application logic here
// persegi panjang
persegiPanjang persegi=new persegiPanjang(3,5);
System.out.println(“panjang         : “+persegi.getPanjang());
System.out.println(“lebar           : “+persegi.getLebar());
System.out.println(“LUAS            : “+persegi.luas());

persegi.skala(3);
System.out.println(” +panjang (3x)  : “+persegi.getPanjang());
System.out.println(” +lebar (3x)    : “+persegi.getLebar());

System.out.println();

// balok
balok balokku=new balok (4,6,8);
System.out.println(“panjang         : “+balokku.getPanjang());
System.out.println(“lebar           : “+balokku.getLebar());
System.out.println(“tinggi          : “+balokku.getTinggi());
System.out.println(“LUAS            : “+balokku.luas());

balokku.skala(2);
System.out.println(” +panjang (2x)  : “+balokku.getPanjang());
System.out.println(” +lebar (2x)    : “+balokku.getLebar());
System.out.println(” +tinggi (2x)   : “+balokku.getTinggi());
}

}