Menjadi seorang Avoidant bukan Antisosial

Pernah suatu hari ada temenku bilang, “Jangan terlalu Antisosial ta..” ke aku. Mungkin kalian juga pernah mengalaminya, mereka bilang “Ckck, ngak pernah mau di ajak keluar, terus aja jadi antisosial..”, mereka menyebut ‘antisosial’ atau yang satunya ‘asosial’. Aku tahu maksud mereka, yaitu menganggap orang yang tidak punya kemampuan berinteraksi dengan orang lain atau orang yang jarang melakukan kontak sosial adalah “Antisosial” dan menyamakannya juga dengan istilah “Asosial”, padahal sebaliknya, tapi biar gak salah aku ambil definisi dari referensi aja,

Antisocial personality disorder is a mental condition in which a person has a long-term pattern of manipulating, exploiting, or violating the rights of others. This behavior is often criminal. – MedlinePlus

Jelas pengertian yang sering diucapkan tentang antisosial ini agak berbeda. Mengacu pada definisi di atas Antisosial adalah orang yang tidak mengerti arti sosial itu sendiri dengan berkurangnya hati nurani, mereka rentan atau berpotensi untuk melakukan tindakan kriminal dan percaya orang disekitarnya adalah orang yang lemah, bisa dimanfaatkan, agresif sehingga memiliki kecenderungan memanipulasi, melakukan kekerasan tanpa berpikir konsekuensi yang diambil dari tindakannya. Jadi apakah orang yang kurang kemampuan dalam berinteraksi mampu melakukan hal tersebut? ada kemungkinan, iya tapi kecil, semua orang juga berpotensi dan saat ini setidaknya ada definisi lain yang bisa digunakan dan berhentilah menggunakan kata antisosial untuk mereka. It’s rude guys..

Kalau dibilang aku antisosial, definitely NO! tapi mungkin aku sedikit mengalami disorder yang disebut Avoidant. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang personality disorder, kalian bisa baca di web yang terpercaya untuk mengetahui berbagai jenis personality disorder tapi disini aku sedikit ngasih opini tentang antisosial dan avoidant. Jadi apa avoidant?

Avoidant personality disorder is characterized by feelings of extreme social inhibition, inadequacy, and sensitivity to negative criticism and rejection. Yet the symptoms involve more than simply being shy or socially awkward. WebMd

Kurang lebih avoidant ini mencoba berusaha menghindari situasi sosial karena mereka merasa “tidak cukup baik”, punya ketakutan ditolak, memalukan diri sendiri yang menyebabkan sifat minder, tapi bukan berarti mereka tidak menginginkan untuk melakukan kontak sosial dan berhubungan dengan orang lain, justru sebaliknya mereka kadang memimpikan untuk menjalin hubungan sosial sehingga seringkali mereka menciptakan dunia mereka sendiri (berkhayal). Menurutku avoidant ini adalah orang – orang yang perlu diselamatkan. Kalau teman kalian hanya pemalu atau minder untuk melakukan interaksi diluar ruangan yang membutuhkan banyak kontak sosial yang bisa membuat mereka menjadi tidak nyaman kalian tidak perlu menyebutnya Antisosial, banyak cara untuk berinteraksi dengan mereka.

Tapi ada juga orang yang benar – benar menghindari hubungan dengan orang lain, tidak menunjukkan banyak emosi dan TIDAK diam – diam menginginkan kontak sosial, seperti memilih untuk menjauh, tidak butuh perhatian, tidak punya selera humor, orang sering menyebut mereka ‘penyendiri’ bahkan susah mengekspresikan senang dan kemarahan. Orang – orang ini memiliki disorder yang disebut Schizoid. Kalo menurutku avoidant yang tidak terselamatkan atau mendapat tekanan terus – menerus akan berpotensi menjadi Schizoid, makannya aku bilang tadi avoidant itu butuh diselamatkan dengan tetap melakukan kontak sosial dengan mereka sehingga mereka tidak kehilangan kepercayaan bahwa masih ada orang yang disekitarnya peduli dan memberi keyakinan untuk membuat ikatan dengan orang lain walaupun jumlahnya sedikit.

Aku cenderung merasa inferior disekitar orang lain. Ada beberapa orang yang bilang aku ‘low profile’ karena itu, tapi sebenernya salah. Yah aku berterima kasih mereka merubah inferiority complex menjadi kata positif, walaupun sebenarnya rendah hati dan rendah diri itu sesuatu yang berbeda. Shit, suatu hari nanti aku aku akan merubah itu semua sehingga persepsi orang ke aku menjadi benar. Aku tetep sama seperti yang lain, ketika ada orang lain meremehkan kemampuanku, I feel pissed off. Jadi sekarang gimana?, hmm ya gak gimana – gimana hehe, kembali ke topik, karena kita yang keseringan pakai kata antisosial mungkin bisa mencoba melihat lebih dalam teman – teman kita apa mereka sebenarnya Avoidant atau Schizoid, atau kalian sendiri yang suka menyebut orang lain antisosial yang sebenarnya Antisosial bahkan Asosial? Lain kali aku akan nulis tentang orang yang sering bilang psychopath dan sociopath.

Tulisan ini aku buat ketika terakhir kali aku dengar ada anak cewek yang bilang “Aku sendiri antisosial..” pas lagi main di Wifi.id di Perum Gunung Batu, Jember. Sebenernya gak maksud nguping tapi mereka ngobrol di depan ku, dari obrolan mereka aku jadi tahu kalo mereka anak FISIP angkatan 2012 satu universitas dengan aku, bukan satu fakultas, aku kan di SI :). Hmm nah mungkin kalian bisa nebak kenapa aku jadi tambah pengen nulis ini hehe.

References:
WebMd : Avoidant Personality Disorder
MedlinePlus : Antisocial personality disorder

‘Grand Theft Auto’, in its deification of antisocial behavior, is where I heap the most of my scorn.
– Nolan Bushnell

2 pemikiran pada “Menjadi seorang Avoidant bukan Antisosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s