Jika aku punya mesin waktu

Tidak, aku tidak membahas mesin waktu dalam perspektif fisika kuantum. Hanya berandai andai, apa yang ingin kalian lakukan jika punya mesin waktu?. Pergi ke masa depan kah untuk melihat seperti apa kalian kelak? kembali ke masa lalu?, atau lebih memilih tidak menggunakannya?. Aku lebih memilih kembali ke masa lalu, kenapa? karena aku ingin ketemu aku yang berumur 7 tahun kemudian menatap matanya dalam – dalam, memegang pipinya lembut….. plak.. jangan alay po’o kamu ya gusti….

Lanjutkan membaca “Jika aku punya mesin waktu”

Membenci waktu

Tik…tik…tik.. aku benci dengan waktu, ia tak pernah menungguku, tak pernah menunggu siapapun, tik..tik..tik.. aku benci ketika melihat waktu, ia membuatku terburu – buru dan panik, tik…tik…tik aku benci ketika mengikuti waktu, ia mengingatkanku kepada semua tanggung jawab yang belum terselesaikan, tik…tik…tik… aku benci ketika bergantung pada waktu, ia mendekatkanku kepada akhir hayatku. “Time waits for no one” kalimat yang aku temukan di sebuah movie science fiction romance yang berjudul The Girl Who Leapt Through Time, iya benar waktu tidak menunggu siapapun, ia tidak peduli kalian seorang presiden, polisi, dokter, profesor, orang biasa, anak – anak, ia akan terus berjalan dan berlari tanpa pernah berhenti.
Lanjutkan membaca “Membenci waktu”