Guru ideal, menurutku!

Aku bukan seorang guru, tapi aku punya pemikiran seperti apa seorang guru seharusnya. Sebelumnya aku bercerita di artikel jika aku punya mesin waktu, aku akan lebih rajin belajar waktu sekolah. Dulu aku tidak mengerti kenapa harus menghitung percepatan sebuah benda. Buat apa menghitung derajat pandangan kita dengan ujung pohon menggunakan trigonometri, atau menghitung kesukaran kereta mengerem menggunakan rumus momentum. Karena contoh implementasi yang menurutku gak terlihat berguna yang membuatku mungkin malas belajar. Kemudian aku mulai menyalahkan guru yang mengajar, iya aku menyalahkan mereka.

Lanjutkan membaca “Guru ideal, menurutku!”

Bertahan hidup dengan sebuah pekerjaan

“Orang seperti dia itu, gak akan mau mengerjakan hal – hal remeh temeh seperti ini”, aku bahkan lupa siapa yang meneruskan kata – kata itu dari teman satu kampus tapi aku masih ingat siapa nama yang disebut yang ditujukan buatku. Jadi ingat ada kalimat yang pernah aku baca di sebuah blog “orang cerdas terkadang suka menganggap orang lain rendah dan lambat, orang sukses terkadang tidak mau mengerjakan hal yang kecil lagi yang pernah dia lakukan dulu”, Yah aku tahu apa yang temanku maksud.

Jadi secara gamblang temenku ini berpendapat bahwa aku tidak mau melakukan hal – hal remeh temeh, kecil, gak bisa dilihat hasilnya. Dia berpikir bahwa aku tidak lagi mengerjakan sesuatu yang diminta hasilnya kecil, gak keren, kurang wah, gak bisa dipamerin, dan sejenisnya. Lagi, aku akan berbicara soal pekerjaan, aku melalui sebuah proses, bukan aku saja, kalian juga. Menanggapi kata – kata temenku tadi mungkin sebagian benar tapi sebagian juga salah. Semakin kesini aku mengerti banyak hal, sesuatu yang dulu tidak tahu sekarang menjadi tahu, yang dulu pragmatis sekarang idealis, yang dulu sederhana sekarang menjadi rumit. Lanjutkan membaca “Bertahan hidup dengan sebuah pekerjaan”