Guru ideal, menurutku!

Aku bukan seorang guru, tapi aku punya pemikiran seperti apa seorang guru seharusnya. Sebelumnya aku bercerita di artikel jika aku punya mesin waktu, aku akan lebih rajin belajar waktu sekolah. Dulu aku tidak mengerti kenapa harus menghitung percepatan sebuah benda. Buat apa menghitung derajat pandangan kita dengan ujung pohon menggunakan trigonometri, atau menghitung kesukaran kereta mengerem menggunakan rumus momentum. Karena contoh implementasi yang menurutku gak terlihat berguna yang membuatku mungkin malas belajar. Kemudian aku mulai menyalahkan guru yang mengajar, iya aku menyalahkan mereka.

Hmm mulai dari mana ya, oke waktu kuliah aku mulai memahami bagaimana sebuah ilmu itu dikembangkan dan diajarkan. Aku mulai mengerti pada dasarnya keilmuan itu muncul ketika umat manusia menemukan masalah atau pola dan fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Untuk menjawab permasalahan atau mencari solusi dan memenuhi keingintahuan itu maka munculah proses study hingga teori dan rumus ditemukan. Nah masalahnya ilmu itu butuh proses yang panjang untuk terus disempurnakan, maka ilmu tersebut harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Namun yang jadi masalah adalah bagaimana ilmu ini diwariskan.

Menginspirasi

Waktu dulu SD guruku sering bilang kurang lebih seperti ini, “Kalian harus belajar yang rajin biar pintar, kalau kalian pintar kalian pasti sukses”. Yang dulu aku pahami dari kalimat ini adalah, pertama jika rajin belajar pasti pintar, kedua jika pintar maka sukses. Gimana ya, aku kurang setuju guru SD mengatakan hal seperti ini sekarang. Anak pintar tidak selalu sukses begitu juga sebaliknya. Mungkin maksudnya agar siswanya termotivasi untuk menjadi pintar, tapi dengan cara bagaimana tidak dijelaskan detail. Akui sajalah setiap anak itu berbeda, bukan cuma difable (differently able) yang butuh penanganan khusus, hampir setiap anak butuh penanganan khusus. Tidak semua anak terlahir cerdas, nyatanya ada gen cerdas yang diturunkan, jadi memang ada anak yang punya kemampunan luar biasa sejak lahir. 

Ada juga anak yang pintar karena faktor psychologist, dalam hal ini biasa ditemukan anak seorang guru atau orang tua yang modern, dimana mereka menerapkan metode dan dukungan yang tepat sehingga membuat mereka  berkembang dengan baik. Guru bukan motivator jadi janganlah memaksa untuk memotivasi, sebagai gantinya jadilah figur yang disukai siswa.  Jadi pertama guru itu harus menginspirasi, bukan hanya berkata manis untuk memotivasi, biarlah motivasi belajar anak itu tumbuh dari dalam dirinya sendiri sehingga mereka tahu kalau sekolah itu kebutuhan mereka sendiri.

Komunikatif

Semakin tinggi tingkatan sekolah maka semakin sulit pelajaran yang didapat, seperti yang aku alami dulu, setiap bab mata pelajaran aku selalu bertanya kepada diriku sendiri kenapa aku harus belajar ini dan itu. Aku juga tidak mengerti contoh implementasi dari perlajaran tersebut. Gini deh, pas pelajaran trigonometri dibuku soalnya cuma gambar segitiga, seringnya gambar orang dan pohon yang jika ditarik garis dari ujung pohon ke orang kemudian ke bawah pohon akan jadi segitiga, kemudian kita disuruh menghitung derajatnya jika diketahui jaraknya entah sisi, depan atau miringnya. Aku gak ngerti kenapa contohnya kayak gitu, entah karena aku bodoh atau terlalu visioner hingga menimbulkan pertanyaan lain “kenapa aku harus mengukur derajat posisi aku berdiri dengan pohon didepanku?”

Suatu hari ketika aku sudah kuliah lagi rame – ramenya game Angry Bird atau dulu pas SMP rame game Zuma. Aku belajar membuat game sendiri dan mencari tahu bagaimana caranya memutar object (seperti ketapel di Angry Bird, atau tembak di Zuma) berdasarkan posisi mouse (x, y). Guess what, trigonometry solves that problem. Pada saat itu mataku terbuka bagaimana pelajaran matematika dan fisika dari SMP implementasinya menarik sekali, benar – benar real-world case. Ketika aku belajar membuat game aku juga mengetahui kecepatan, percepatan, momentum, impulse, friction, gravity itu bisa diciptakan, aku baru tahu rumus yang dipelajari di sekolah itu adalah representasi dari fenomena alam itu sendiri, bahkan bagaimana air bergerak juga bisa disimulasikan. Aku baru paham kenapa ilmuan banyak yang tidak percaya tuhan, karena mereka “playing god”, mereka menemukan rumus bagaimana itu terjadi dan bekerja.

Mungkin dulu aku bodoh, aku tidak bisa berpikir seperti sekarang karena guruku hanya menyuruh menghitung dan menghitung, mereka tidak memberikan makna tentang ilmu itu sendiri, mereka hanya menyebutkan ulang apa yang tertulis dibuku, seperti kita tidak benar – benar mengerti apa itu “mobil” tapi kita bisa “menyetir” hanya karena kita disuruh menyetir. Jadi kedua, guru itu harus kreatif dan benar – benar memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan apa yang diajarkan, memberikan stimuli agar siswa benar – benar mengerti apa yang dipelajari, untuk selanjutnya biarkan siswanya yang menentukan apakah memang suka atau tidak suka terhadap pelajaran itu.

Cerdas dan Berpengalaman

Simple, bagaimana seorang guru tidak pintar jika dia punya kewajiban untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Tingkatan seseorang setelah bisa atau mengerti tentang suatu ilmu adalah bisa mentransfernya kepada orang lain. Waktu kuliah aku miris dengan alasan anak yang lanjut S2 dan ingin jadi seorang dosen. “Kenapa, ingin jadi dosen?”, “jadi dosen kan ilmunya bermanfaat (that’s good, but i feel sorry after that),  aku gak pinter banget, kalau kerja di software developer atau jadi engineer aku gak mampu”. Mereka berpikir jadi dosen itu sesuatu yang lebih mudah dari seorang engineer karena cuma mengajar mahasiswa, wait you’re ignorance! aku benar – benar gak ngerti dengan ini, gimana ya ngomongnya, kalau aku mau jadi dosen, pertama aku sekolah S1, kemudian bekerja atau sekolah S2 dulu dan bekerja jadi engineer minimal 10 tahun kemudian jadi dosen atau sambil ngajar dia juga jadi engineer. Kenapa? karena kalian itu pendidik, kalian itu punya tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa untuk siap di industri.

Mereka bilang setelah lulus di perusahaan akan di training, but tidak seperti itu juga, kalau begitu buat apa kuliah sedangkan waktu melamar pekerjaan diminta portfolio yang bagus, bukan hanya IPK dan cara berpikir yang matang. Dosen yang seperti itu tidak akan bisa berbicara berdasarkan pengalaman, dia hanya bisa berbicara berdasarkan buku, apa yang ditulis buku sangat bagus tapi tidak cukup. Jadi ketiga, guru itu harus cerdas dan mampu menyiapkan peserta didiknya untuk siap di masa depan. Bagaimana dia mengajar bisnis jika tidak pernah berbisnis, bagaimana dia mengajar tentang web security jika dia tidak pernah jadi SysAdmin.

Berdedikasi

Ada yang bilang jadi guru itu pekerjaan yang mulia dan pahlawan tanpa tanda jasa. Lantas kalau mereka mendapat gelar sehebat itu tapi kenapa banyak dari mereka menuntut kesejahteraan dan kemuliaan. Apa karena memang mereka tidak pantas mendapatkannya, tidak semulia dan sepahlawan itu. Bandingkan saja sistem disini dan di Finlands yang katanya memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Dosenku pernah bilang jadi guru paling cepat masuk surga, well apa jadi seorang engineer tidak bisa cepat masuk surga?. Kalau menurut mereka itu pekerjaan mulia karena mengajari seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, ya karena itu memang jobdesc seorang guru, kalau tidak melakukan itu ya tidak dibayar. Berbeda ceritanya jika kalian secara sukarela membangun sekolah dan bekerja cuma – cuma untuk mengajar seperti pada zaman dahulu, aku lebih yakin niat kalian tulus. Sekarang sudah tidak seperti itu dan masih membanggakan hal tersebut, menjadikannya tameng dan dalih untuk jadi terhormat.

Sebenarnya tidak hanya menjadi seorang guru, untuk apapun ketika kalian memberikan jiwa dan hati kalian, entah bagaimana kita bergerak dengan kerendahan hati dan semangat. Ya, walaupun terkadang hidup ini mendorong kita hingga ke tepi, ada usaha yang butuh biaya, lelah yang tetap terasa karena kita bukan robot dan butuh apresiasi dalam bentuk finansial support, yes it’s obvious. So, guru itu BUKAN pekerjaan yang mulia, mereka yang seharusnya memuliakan diri mereka sendiri dengan mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk keberlangsungan ilmu pengetahuan. Pahlawan bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa dilamar, pahlawan itu seperti sifat yang kita bangun dari dalam. Kalau guru itu mulia kenapa ada berita di TV seorang guru memperkosa siswinya sendiri, apa yang seperti ini yang masuk surga lebih dahulu?.

Itu tadi 4 syarat menjadi seorang guru yang menurutku ideal. Opiniku bukan standard berdasarkan penelitian atau sesuatu yang akan disetujui semua orang. Aku menulis berdasarkan apa yang aku rasakan ketika seorang guru beranggapan bahwa “Apapun yang terjadi terhadap siswa, menjadi pintar atau tidak itu bergantung mereka sendiri”, menurutku pendapat ini setengah benar dan setengah salah, guru itu role model yang menurutku cukup penting entah di sekolah SD yang pemikiran siswanya masih cetek sampai di kampus untuk mahasiswa master yang udah cerdas sekalipun. Aku berharap lebih dari para calon guru, aku tidak ahli, tapi aku merasakannya sebagai siswa, teriakan tidak puas dengan sekolah, cara mengajar, buku pelajaran dan sistem yang ada.

The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. – William Arthur Ward

Gresik, bored moment and alone…
February 2017 © anggadarkprince.wordpress.com

Cover Image: The Odyssey Online.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s