Keluarga model lama

Aku punya topik baru di blogku, “keluarga”, yah… Aku akan sedikit terbuka tentang kehidupan pribadiku. Keluargaku merupakan keluarga yang konservatif, kaku, kolot, atau apapun istilah yang relevan dengan itu. Keluargaku seperti kebanyakan keluarga lainnya, kami bukan keluarga modern seperti yang ada di dalam sinetron atau keluarga muda yang terbentuk 20 tahun yang lalu, tapi kami survive hampir 40 tahun yang lalu.

Jadi, kenapa kami menyebutnya model lama? Hmm mungkin karena manusia terus berkembang sehingga butuh perubahan dalam bersikap, bersosialisasi dan cara bertahan hidup dimasa sekarang ini. Sedangkan kita tetap tidak banyak berubah dari dulu hingga sekarang. Berbicara tentang bagaimana strategi atau culture yang diterapkan di rumah, orang tuaku lebih suka anak – anaknya diam dirumah, yah mungkin ini yang menyebabkan aku jadi anak rumahan. Kita jarang terpengaruh dengan apa yang terjadi diluar, sebaliknya kita punya pola pikir negatif terhadap dunia ini, kenapa? Karena dunia ini kejam, kita harus bisa bertahan sendiri tanpa bergantung orang lain. Tapi ini juga memberikan side-effect seperti kurangnya pihak yang bisa dijadikan fail-safe dalam keadaan darurat.

Menurutku orang tuaku ini susah menyerap perkembangan teknologi, bahkan bapak tidak mau mengganti handphone nya dengan smartphone karena dia tidak bisa mengoperasikan sesuatu yang menurutnya cukup rumit, tapi bapak pernah nyeletuk, “wong iku lebih tuwo teko bapak tapi iso nggawe hp layar sentuh” (orang itu lebih tua dari bapak tapi bisa pakai hp layar sentuh) dan aku tertawa.

Well, ditulisan ini aku bukan mengeluh tentang keluarga dan orang tuaku yang seperti ini, tapi aku bercerita tentang pilihan bagaimana visi keluargaku terbentuk. Ini seperti ngasih ke ibuk produk ‘victoria secret’, it’s just not fit, jadi aku menerima keluargaku karena inilah kita. Sebenarnya ini bukan sebuah pendekatan kuno yang usang, dan tidak cocok dengan zaman, no!. Iya aku tahu ada beberapa hal yang memang tidak cocok diterapkan di masa seperti sekarang, tapi aku masih bersyukur di didik dengan cara lama, karena model keluarga modern juga tidak cocok dengan idealisme keluarga kami. They are just a new generation, it takes nothing until they come up with good habit, well manner, honesty, kindness, sincere, and guts to speak aloud about truths.

Kita adalah keluarga survivor, dengan segala kegagalan dan kesialan yang mengikutinya. Kita bukan keluarga yang sukses dalam mendidik anak, mensejahterakan diri atau penuh prestige dan glitter, tapi kita masih bertahan dan itu cukup. Kita keluarga rata – rata, tidak tinggi tapi juga tidak hina. Aku tidak akan menyebut keluargaku atau orang tuaku merupakan yang terhebat di dunia seperti anak yang bercerita tentang keluarganya di depan kelas. Tapi kita telah memberikan segalanya untuk tetap utuh, jadi don’t you dare scew with us, you have warned!.

Suatu ketika aku melihat postingan di instagram dari seorang teman yang meng-capture group keluarga di whatsapp dan line, well seperti keluarga modern mereka terlihat kompak, beriteraksi dalam aplikasi chat tersebut, kemudian aku berpikir “gimana ya kira2 kalau keluargaku punya group chat kayak gitu, nee antara gak bisa dibayangin dan gambaran aneh di kepalaku…haha”, yah it is a joke buat diriku sendiri, aku tidak punya keinginan itu, hanya berkhayal. Di kondisi keluargaku, it’s not gonna happen, aku gak akan maksa bapak ganti smartphone kemudian tak paksa beli paketan internet dan install bbm didalamnya, it doesn’t work like that. Bukan karena apa – apa, itu hanya.. Apa ya…it’s not our habit, it’s not what we are, we don’t become what we’re not belong. Mereka bilang keluargaku kurang dinamis, “ya belajar donk, jadi orang tua yang pinter, jangan diam aja, kayak orang pengangguran jaman sekarang aja, background keluarga dan pendidikan jadi alasan!”. Well, I can’t talk much but yes we are maybe, kita tidak menganggap itu penting, setiap sistem punya celah, termasuk konservatifnya keluargaku.

Again, beberapa minggu lalu hari ibu, banyak di instagram yang foto bareng dengan ibunya masing – masing. Ya walaupun aku tahu foto itu diambil dari momen beberapa bulan sebelumnya yang di pas pasin dengan hari ibu dengan ditambahin quotable caption. I tell you, keluarga modern selalu excite dengan apa yang terjadi sekarang, berbeda dengan keluargaku yang konservatif, kita berpikir itu semua bullshit, sorry I meant it’s not necessary. Ketika kita melakukan sesuatu harus ada dasarnya, bukan sekedar label, bukan sekedar ikut – ikutan, tapi sesuatu yang real. Daripada upload foto, ibukku lebih milih duit 100 ribu dihari ibu buat beli beras, hehe ibuk emang gitu.

Tapi terlepas dengan sistem, kita memang punya banyak celah, tempramen, kurangnya kerjasama, individualis ya you know seperti permasalahan keluarga pada umumnya, but it’s okay, we can handle it, but I’m thinking about people who become my partner in future, I hope she would tolerance, can adapt to respect our glitch and differences…

However, I love my family..

Gresik, quite midnight…
January 2017 © anggadarkprince.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s