Aib

Kadang orang datang dan bercerita tentang sebuah masalah, terutama masalah yang menyangkut hal – hal yang sensitif tentang dirinya. Beberapa mungkin tentang konflik diri seperti ragu dalam mengambil keputusan, kehilangan motivasi, butuh tujuan hidup dan lain sebagainya. Menurutku ada 2 tipe orang yang bercerita tentang sebuah masalah, pertama orang yang memang kehilangan arah dan butuh solusi atau alternatif jalan keluar dari orang lain. Kedua orang yang butuh affirmation atau dukungan untuk ikut “mengiyakan” dan mengamini apa yang dia pikirkan. Seringnya tipe yang kedua ini bercerita tentang konfliknya dengan orang lain, sedangkan tipe yang pertama adalah orang yang mungkin mencoba bersikap lunak, mau introspeksi diri, tahu dia mungkin telah berbuat salah, tahu bahwa ada pihak yang tersakiti, entah orang lain atau dirinya sendiri. Melihat hal ini setidaknya ada 2 hal yang mungkin terlintas dipikiran mereka, dia memutuskan diam untuk menyimpan masalahnya sendiri atau bercerita untuk melegakan bebannya.

Tapi kadang beberapa hal mungkin tidak perlu diceritakan kepada orang lain, sebagian orang lain memang peduli tapi banyak juga yang hanya sekedar ingin tahu. Manusia selalu punya dua sisi, seperti penggalan lirik lagu Hatsune Miku – It’s a Liar’s World “malaikat hanya berkata benar, setan hanya berkata bohong, tapi manusia sangat membingungkan, mereka bisa berkata keduanya”. Berkiblat pada norma yang tumbuh di masyarakat, manusia hidup  dengan kebaikan. Tapi kadang kita mengalami hal – hal buruk dalam hidup, tidak selamanya orang berjalan lurus. Ketika khilaf, kita menyalahkan dunia ini yang menempatkan kita diposisi yang membuat kita lupa. Dunia yang mengenalkan kita pada kegelapan, kegagalan, kesepian, kebencian yang membuat kita akhirnya tersesat. Hingga suatu saat kita kembali sadar dan berpikir, betapa bodoh hal – hal yang pernah kita lakukan dan yang kita ucapkan dulu. Hingga beban itu seakan ingin meledak hari demi hari, ingin dihapus tapi tidak bisa, ingin diakui tapi memalukan.

Ya tentu saja beberapa hal kadang sangat sulit untuk dinilai, apakah itu perlu untuk dibagi  dengan orang lain atau tidak. Apakah tujuan bercerita untuk mengurangi beban atau itu hanya sebuah pengakuan bersalah untuk siap menerima hukuman nantinya. katakanlah ada 2 contoh masalah, pertama seorang anak gadis yang kehilangan keperawanannya karena pacarnya yang akhirnya juga meninggalkannya, kedua orang yang tidak sengaja membunuh temannya tapi tidak ada yang tahu bahwa dia adalah pembunuhnya. Sebenarnya ini jelas masalah yang berbeda, kasus pertama mungkin hanya melibatkan dirinya sendiri, tapi juga bisa menjadi kekecewaan yang besar untuk orang lain, iya orang tuanya. Bahkan ketika semua orang tahu, rasanya ingin mati saja, mau ditaruh dimana harga dirinya, apalagi orang tuanya. Karena mungkin orang lain berpikir bahwa orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan benar. Padahal bagaimanapun anaknya yang memegang kendali penuh atas hidupnya tapi tetap banyak pihak yang terkena imbasnya. Sepintas dia adalah korban, tapi coba lihat pada kasus kedua.

Kasus kedua merupakan tindak kriminal, dia tidak kehilangan apapun kecuali sifat manusianya. Kalaupun pembunuhan tidak sengaja, tetap akan diproses namun dengan banyak pertimbangan. Masalah ini berdampak besar pada keluarga yang dibunuh juga. Antara kasus pertama dan kedua menurutku mereka sama – sama menjadi pelaku sekaligus korban, tetapi beberapa orang akan berpendapat bahwa pada kasus pertama kita boleh menyimpan sendiri masalah itu sedangkan kasus kedua harus di akui. well, bukannya sama – sama akan menyakiti orang lain ya? ini lebih rumit dari kelihatannya, aku mungkin bisa nulis panjang lebar masalah kasus pertama, tapi aku akan meninggalkan tulisan ini dengan greget yang menggantung. Singkirkan penilaian yang lebih manusiawi atau tidak manusiawi dalam kasus tersebut. Aku tahu beberapa orang menilai bahwa 2 hal ini tidak bisa dibandingkan atau mengatakan bahwa kasus kedua lebih berat, karena menyangkut keadilan (atau dendam). Cacatnya nilai diri yang membuat kita layak dikatakan manusia menghilang sudah, sedangkan kasus pertama hanya pelanggaran norma masyarakat timur.

Mungkin benar pada kasus pertama mungkin cukup diri kita yang tahu, sedangkan kasus kedua harus diceritakan atau diakui kepada publik karena akan menerima hukuman nantinya. Tapi di beberapa negara untuk kasus pertama juga bisa mendapat hukuman fisik selain hukuman pengasingan secara tidak langsung dari masyarakat. Jadi pada akhirnya memang sulit untuk memutuskan pilihan. Semua dipengaruhi oleh lingkungan dan moral compass yang berlaku disekitar kita. Tapi kenapa kita perlu self-aware terhadap hal ini? karena kadang beban itu semakin berat untuk dibawa, tidak semua orang bersikap masa bodoh dengan sisi gelapnya. Tidak semua orang easy to moving on and continue their life like nothing happen. Entah kenapa bercerita bisa mengurangi bebannya, entah kenapa berbagi mampu menjadi pengingat sekaligus self-punishment atas perbuatannya.

Ketika seseorang bercerita sisi gelapnya kepadaku, ada 2 hal yang selalu muncul, pertama beban tanggung jawab karena secara tidak langsung kita menjadi penjaga rahasia, kedua perasaan ingin tahu yang terpuaskan karena kita mengetahui sebuah rahasia, apalagi untuk masalah yang sensitif dan negatif. Aku sendiri bukan manusia tanpa celah, andai semua sisi gelapku dibuka selebar – lebarnya mungkin tak seorangpun mau menoleh, yang ada perasaan benci, jijik, hina dan pandangan rendah kepadaku. Bahkan aku tidak bisa membayangkan nanti ketika hal itu terjadi. Bersiap untuk terasing, sendiri, karena keberadaanku akan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan bagi yang melihatnya. Atas kuasa apa aku meminta pengampunan, belas kasih, dan kesempatan kedua. Sedang waktu telah berlalu dan kejadian itu telah terjadi. Aku mengakui keberadaan sisi gelapku, aku mengakui  segala perilaku dan kata yang tidak pantas yang aku miliki, tapi setidaknya izinkan aku untuk menyimpan setiap detailnya hingga tiba saatnya aku dihinakan sehina – hinanya, dibenci sebenci – bencinya, dihancurkan sehancur – hancurnya. . .

It is not a disgrace to fail. Falling is one of the greatest arts in the world
― Charles Kettering

Gresik, alone at night…
December 2016 © anggadarkprince.wordpress.com

Reference:
[image source: Google]

Satu pemikiran pada “Aib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s