Masyarakat di social media

Siapa hari ini yang tidak punya akun Twitter, Facebook, Path, Instagram dan lain sebagainya. Aku punya topik baru di Blog ku, ya tentang social media, tentu saja dengan topik critical awareness dan self education. Aku akan membahas pola perilaku masyarakat di social media untuk kedepannya. Sekarang aku akan membahas secara general.

Sebelumnya seperti biasa mukadimah tentang hal – hal teknis. Social media saat ini menjadi seperti dunia kedua seseorang. Menurut data statistik Statista tahun 2016 ini masyarakat dunia menghabiskan setidaknya hingga 118 menit  per hari atau sekitar 2 jam menggunakan social media. Istilah social media sendiri mungkin tidak terbentuk secara langsung, mengingat website seperti forum, milis dan sejenisnya telah ada ketika internet mulai populer. Tapi ketika internet menjadi hal biasa dan banyak hal menarik di dalamnya kemudian paradigma baru muncul.

Banyaknya website dengan spesifikasi yang memungkinkan untuk orang – orang bersosialisasi jarak jauh, memanfaatkan berbagai layanan seperti status pertemanan, update informasi pribadi, chat dan lain sebagainya membuat social media menjadi istilah standard. Pihak developer atau vendor dari social media ini pada dasarnya tetap menjalakan sebuah bisnis yang tujuannya menghasilkan uang dengan membentuk sebuah influence dan ekosistem dilingkup produknya. Sehingga mereka dapat mengolah data penggunanya untuk tujuan marketing seperti iklan berdasarkan perilaku dan tendency dalam aktivitas menggunakan produknya. Social media seperti sebuah negara dengan segala kebijakannya, pemerintah (vendor) bisa memberdayakan masyarakatnya untuk perang atau membangun infrastruktur jika diperlukan.

Nah karena vendor besar seperti facebook atau twitter mampu menciptakan ekosistem yang solid akhirnya masyarakat tergiring untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru, kebutuhan akan social media menjadi tak terhindarkan. Kebiasaan akan menjadi budaya, budaya membentuk karakter pelakunya dan karakter membentuk identitas seperti apa mereka. Menariknya social media mampu menarik bagian yang lain dari diri kita, bersembunyi dibalik identitas maya memunculkan keberanian untuk melakukan tindakan agresif, tindakan yang tidak bisa diprediksi lebih dari ketika mereka di dunia nyata. Tidak perlu jauh – jauh dalam scope dunia, di Indonesia sendiri banyak kasus yang sering muncul di televisi yang berkaitan dengan social media seperti bullying, terror, penculikan, penipuan, bisnis prostitusi, pembunuhan karakter, dan lain sebagainya sampai akhirnya banyak wacana tentang internet blocking, RUU kajian lanjutan tentang penggunaan internet dan teknologi.

Kalau sebelumnya aku bilang para vendor social media yang membentuk ekosistem dan mempunyai pengaruh bagaimana masyarakat menggunakan produknya, tapi aku yakin tujuan awalnya baik, jadi aku tidak menyalahkan mereka. Sebagai praktisi yang bekerja di bidang pengembangan perangkat lunak aku menghargai karya mereka. Semua hal di dunia ini termasuk teknologi (social media) tentu saja memiliki celah, jadi aku lebih prefer jika masyarakat yang mengambil kendali untuk memilih ekosistem seperti apa yang cocok dalam menggunakan produk vendor tersebut. Sekali lagi dalam critical awareness dimasyarakat seharusnya kita tidak disibukkan untuk menyalahkan pihak tertentu, tapi lebih berharap pada perubahan yang dimulai dari diri kita sendiri.

Social media mampu menunjukkan prestige seseorang, hanya sejauh 1 click dan kalian bisa iri, membenci, kagum, senang, sedih, semua bercampur aduk. Sepenggal kalimat dan berakhir dengan pembunuhan karakter orang terdekatnya. Banyak hal yang rumit tentang trending topic di social media yang aku tidak mengerti. Beberapa merasa social media bisa menunjukkan jati diri mereka sesungguhnya, perang dingin melalui status yang ditulis secara tersirat. Social media mampu memberi ketakutan dan keberanian untuk bersuara, social media sebagai media meluapkan ide dan pikiran. Mungkin kalian juga pernah dengar tentang Social Media Anxiety Disorder, kekhawatiran akan banyak hal disana, mungkin ada yang gila like/love, kekhawatiran statusnya menyakiti orang lain, penolakan, kebutuhan akan penghargaan dalam show off pencapaiannya yang semu.

Terkadang profil akun seseorang tidak semenawan kehidupan aslinya, banyak orang yang suka memberi kesan yang wah daripada yang jujur, kalau ditanya kenapa jawabannya “Yah ini kan hanya social media..”, benar memang ada yang menganggap social media penting tapi hanya sebagai bagian yang lain dari dirinya yang lain, mungkin memang sebagian orang sengaja membentuk karakter kedua disana. Ada juga social media menjadi sarana dia meneriakkan sesuatu yang tidak bisa dijangkau dalam kehidupan nyata, mudahnya mengumbar informasi publik tanpa filter membuat orang lain mudah mengeksploitasinya, menjadi bahan pelampiasan, untuk menjawab keingintahuan tanpa batasan.

Momen atau kenangan pada dasarnya itu tetap permanen di dalam pikiran dan hati ini, bahkan sebelum ada social media seperti saat ini yang mampu mentracking status, foto dan event sepanjang tahun atau dekade, tapi entah kenapa tangan ini gatal untuk upload, bercerita, tidak ada hal yang tidak pantas untuk di bagi. Sekali lagi, we don’t try just to live, but convice the world that we have life, in social media.

Being famous on Instagram is basically the same thing as being rich in Monopoly
– Unknown (pinterest)  

Gresik, a lonely and cold night…
December 2016 © anggadarkprince.wordpress.com

[image source: Google]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s