Katanya “Bahagia itu sederhana”

Seringkali aku tahu tulisan di social media tentang “bahagia itu sederhana…” diikuti dengan beberapa aktivitas yang mungkin memang sederhana, seperti “Bahagia itu sederhana, ngobrol dengan teman sampil ngopi”, atau “Bahagia itu sederhana, ketika membaca smsmu setelah pulang kerja”, dan lain sebagainya.

Pernah suatu hari aku membantah hal ini dengan menulis status di Twitter tentang bahagia itu gak sederhana, kalau bahagia itu sederhana, di dunia atau di Indonesia ini index kebahagiaan tidak bernilai rata – rata. Jadi apakah bahagia yang mereka maksud tentang ukuran pribadi? Iya, aku tahu bahagia bukan tentang tujuan yang besar, namun tetap harus ada indikator yang bisa menjawab kenapa dan apa yang bisa membuat mereka mengeluarkan statement seperti itu.

Bahagia itu terkadang rumit, tidak semua orang bisa menjawab pertanyaan “Apa sih yang membuat kalian bahagia?”, coba jawab!. Ada yang bilang, bahagia itu kalau lulus dan punya mobil, gitu? sekarang belum lulus dan belum punya mobil, berarti anda sekarang belum bahagia donk? see, mungkin memang bahagia itu bukan juga sesuatu yang besar, tapi bukan berarti aku juga setuju tentang konsep bahagia yang sederhana. Kenapa? karena aku mencari sebuah jawaban yang universal, yang bisa berlaku untuk semua orang dengan segala kondisi.

Bahagianya orang yang sedang kelaparan mungkin adalah kenyang, bahagianya orang sakit itu sehat. Masalahnya bagaimana untuk kenyang, sedang ia gak punya uang untuk beli makan, atau berobat, atau ketika memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Artinya bahagianya tidak akan pernah dicapai? apakah karena itu mereka membuat sesuatu bahagia yang lebih sederhana? apakah seseorang selalu memiliki bahagia level 1 dan level 2? Kalau bahagia itu murni tentang rasa yang memang bisa dengan hal yang sederhana, itu hanya bagian dari sesuatu yang mengurangi bebanmu dalam hidup. Seperti mendengarkan musik, entah kenapa itu bisa menjadi distraksi yang positif ketika aku melakukan aktivitas, apa itu sebuah kebahagian sederhana? mungkin.

Harus aku akui memang bahagia itu tentang rasa. Misalkan orang tuaku, beliau orang yang simple, di umurnya yang masuk 50an bekerja lebih sedikit mungkin menyenangkan sekaligus membahagiakan, atau sekedar melihat aku lulus kuliah dan bekerja. Terlihat sederhana, tapi itu tidak sederhana sama sekali, butuh 6 tahun aku di kota orang, butuh jutaan rupiah untuk masuk kuliah, butuh bertahan dari berbagai tekanan luar dalam sampai akhirnya beban itu lepas dan perasaan itu berubah menjadi kelegaan. Bahagia orang tuaku tentang relieving their burdens.

Ada yang bilang, bahagia itu kalau lihat orang lain gagal, no itu hanya stimuli otak kalian yang menimbulkan pleasure sesaat. Tidak semua kesenangan itu bahagia, dan tidak semua tujuan yang tercapai itu juga bahagia. Bahagia itu memang tentang rasa dari pemiliknya, tapi tidak selalu sederhana. Bahagia itu menurutku mahal tapi bukan tentang materi, bahagia itu layak untuk semua orang tapi dunia memilih untuk siapa yang layak. Bahagiaku seperti bagaimana kedua orang tuaku bahagia, relieving our burders.

Gresik, a night after the rain has fall…
November 2016 © anggadarkprince.wordpress.com
[image source: Google]

Satu pemikiran pada “Katanya “Bahagia itu sederhana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s