Jadi kapan….?

“…Fase hidup antara 20 – 30 tahun, siapa yang tahu dimana lonjakan besar terjadi, anak – anak, bocah ingusan, remaja menjadi dewasa dan rasanya perubahan orang – orang disekitar terjadi dalam sekejap mata… tanggung jawab, beban dan cercaan hidup mulai terasa, ketika sendirian, merasa berbeda dari yang lain, tertinggal, unik, hanya ada pertanyaan – pertanyaan yang sederhana tapi terlempar tanpa pemikiran yang mendalam…”

Perubahan menjadi dewasa, ketika semua pikiran manusia mulai terbuka dan rasa ingin tahu menggerogoti otak, mudahnya berinteraksi, saling menyapa ringan hingga timbul kecenderungan suka berbasa – basi dengan menanyakan hal yang sebenarnya bukan urusan mereka, dan terkadang beberapa terasa mengganggu.

Mungkin terdengar remeh dan berlebihan tapi kenyataannya itu memang sering terjadi. Benar kata Aristoteles, manusia itu makhluk yang punya rasa tahu tinggi dan kita menjadi kecanduan untuk berusaha mengungkap dan mencari jawaban dari rasa ingin tahu kita, atau biasanya aku bilang “rasa ingin tahu akan membunuhmu”.

“Kapan lulus…?”
“Kapan kerja…?”
“Eh, kapan nikah…?”
“Kapan punya anak…?”
“kapan nambah anak…?”

… on and on…

kecuali kita udah tua, gak ada yang tanya “Kapan mati…?”, seseorang hidup melalui sebuah proses yang unik, berbeda satu dengan yang lain, dimana ketika orang mengenal konsep ketuhanan maka dia harusnya percaya bahwa “hidup/mati, rezeki, jodoh ada ditangan Allah…”

Sebut saja si H, dia pintar, aktif organisasi, punya IPK yang tinggi, sedikit yang tahu bahwa kepergian orang tuanya mungkin memberikan trauma dan tekanan untuk berjuang menyelesaikan skripsinya. Lalu setelah itu ada saja orang yang bertanya kepadanya “Kapan lulus…?”

Sebut saja aku, 2 tahun lebih telat lulus dari masa normal kuliah, diwaktu senggang dalam 2 tahun itu katakan setiap malam minggu yang aku lewatkan, setiap waktu tidur yang aku korbankan, setiap waktu mainku yang tinggalkan, setiap masa mudaku yang aku tukarkan dengan persiapan yang aku butuhkan. Ada saja orang yang bilang “Cek senangnya se freelance…? (gak kerja / belum kerja)”.

Sebut saja mas A, usianya mungkin sekitar 8 tahun di atas aku, dia sosok yang ramah, baik, tidak ada keterbatasan fisik atau pikiran, punya pekerjaan dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Berusaha menjalin hubungan tapi siapa yang tahu sering berakhir atau bahkan ditolak berulang kali. Kemudian orang bertanya “kenapa belum menikah…?”

Sebut saja mbak L, semua usaha dia lakukan, mengecek kondisi rahimnya, status kesehatan reproduksi suaminya atau dirinya sendiri selama beberapa tahun. Menunggu dan berusaha sambil menabung mempersiapkan uang ketika waktunya tiba dan masih banyak yang tega bertanya “kapan mau punya anak…?”.

Yang kita tahu dia belum lulus, yang kita tahu dia belum bekerja, yang kita tahu dia belum menikah, yang kita tahu dia belum punya anak, sehingga kita merasa berhak untuk bertanya.

Yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu dalam prosesnya, yang kita lupa jodoh adalah misteri yang ditulis oleh Tuhan, jika Ia belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika belum waktunya ya belum waktunya.

and on.. and on…

Jadi pada dasarnya kita yang bertanya adalah yang paling tidak tahu kondisi orang yang diajak bicara, terdengar semacam jokes pembuka ketika reuni untuk meramaikan suasana yang kadang awkward, dan kita hanya menanggapinya dengan santai sambil melempar sedikit senyum. Pertanyaan yang kadang diikuti dengan ucapan dorongan seakan doa? tapi apa benar pertanyaan itu merupakan doa yang tulus, bukan hanya sebuah candaan. Mungkin zaman sudah bergeser dan aku tidak mampu mengikuti lompatan itu, dimana aku selalu berusaha mencoba berhati – hati dan sungkan untuk menanyakan hal seperti itu. Sekali lagi terdengar remeh dan simple tapi beberapa bisa menerimanya dengan perasaan yang sedikit terluka atau cuek, but it’s still rude for me.

…dan akhirnya tahun lalu mbak L punya anak, si H masih belum lulus, mas A masih single, dan aku mulai berhenti freelance, menunggu ijazah untuk merealisasikan plan selanjutnya. Tidak banyak berubah tapi juga tidak jalan ditempat, waktu menjawab pada akhirnya “kapan punya anak…?” untuk mbak L. Tanpa perlu dijawab oleh mbak L pun datang saatnya momen itu sesuai takdir hidupnya.

Semakin dewasa manusia semakin tertutup dan menyimpan emosi mereka di depan publik. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik saja untuk orang lain, dan menyimpan sisanya untuk diperjuangkan sendiri. Bukan dalam artian buruk seperti bermuka dua, definitely no!. Seakan orang lain tidak perlu menanggung beban kita, membiarkan mereka tahu kita baik – baik saja. Agak egois mungkin ya, terdengar seperti tidak ingin dibantu atau ada yang berpendapat nantinya akan menjadi masalah untuk orang lain, bukankan kita manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri. Tapi coba lihat diri kita akhir – akhir ini, bukannya kita sudah punya rencana dan tantangan yang akan kita taklukkan, perlahan mulai fokus dan tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang sedang berusaha lulus kuliah, mencari kerja kemana – mana, mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik, mengikuti promil dan lain sebagainya.

Bahkan bukan hanya tentang kesedihan, beberapa juga menutupi kabar bahagia mereka, disaat rasa senang yang sebenarnya tak terbendung karena lulus kuliah setelah beberapa tahun berjuang, hari pertama kerja setelah puluhan email dan pos surat lamaran terkirim, hari pertunangan yang melegakan hingga menunggu pernikahan, pesan dokter yang memberikan informasi kehamilan agar dijaga baik – baik setelah proses konsultasi dan usaha yang lama. Banyak alasan dari yang sederhana seperti tidak ingin berlebihan hingga ketakutan kebahagiannya akan hilang seketika karena belum percaya bahwa dirinya telah sampai di titik pencapaian seperti teman – temannya.

Jadi basa – basi tidaklah selalu dimulai dari pertanyaan yang basi, karena sesungguhnya kita tidak tahu apa – apa tentang orang lain, tentang apa yang Ia perjuangkan, tentang apa yang Ia inginkan… katakanlah itu doa, bukankan doa yang tulus itu adalah mendoakannya secara diam – diam?

Sepenggal kisah dan dorongan tulisan kecil ini juga aku alami lagi tadi sore ketika lama tidak ketemu teman – teman sekolah waktu duduk di bangku SMP. Penuh guyonan garing yang agak maksa, beberapa banyak yang dengan ringan membalas dengan candaan renyah terutama cewek – cewek, tapi tidak dengan aku yang diam tersudut walaupun duduk ditengah kerumunan, sekilas berpikir dan akhirnya meluapkan isi pikiran di dalam tulisan ini. Walaupun aku tahu dan melihat salah satu temenku yang cewek juga diam kaku dihujani pertanyaan basa – basi yang memang sudah basi… tapi tentu saja aku tidak bisa mengungkapkan opiniku secara langsung karena memang hal seperti ini hanya aku tulis sebagai pengingatku untuk berhati – hati dalam bertutur kata…

 

You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something – your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
– Steve Jobs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s