Developer dan Client

“…Mas ini kok gak bisa.. ini masih gak work… lambat banget keluar gambarnya….”  yah kata – kata seperti itu udah sering… dari client ke developer.

Jadi Freelancer ada enaknya ada nggak nya. Kali ini aku cerita tentang berhadapan dengan Client, beberapa project aplikasi mungkin udah tak selesaikan tapi dari beberapa pengalaman itu sampai sekarang aku masih sering bermasalah dalam membangun  komunikasi yang baik dengan Client atau orang yg meminta dibikinin aplikasi itu, yah namanya juga manusia kan berusaha mencari keuntungan setinggi tingginya dengan effort serendah – rendahnya. Biasanya Client minta aplikasi yang bagus, sesuai yg dia referensikan, misal ingin bikin portal berita kayak detik, kompas, atau socmed kayak Facebook, Twitter atau web hotel and travel booking kayak traveloka, nah mereka selalu menginginkan aplikasi level enterprise profesional kayak gitu yang dikembangkan selama bertahun – tahun dengan banyak talent tapi ingin menggunakan budget yang jumlahnya bahkan untuk bikin web profil statis aja masih kurang.

Tapi aku juga amatiran, bukan maksud merusak harga tapi tetep aja tak terima, walaupun kalau dipikir jam kerja hampir 10-12 jam per hari tanpa libur, selama beberapa bulan, libur kalo sakit atau beneran capek. Huh, dengan budget segitu dan SDM cuma satu, aku gak bisa menghandle semua aspek, artinya semua akan terasa standard dan kalau dibandingkan dengan program level enterprise tadi ya memang buatan ku kalah jauh. Berbeda dengan sebuah tim yang fokus disetiap aspek, misal UI sendiri, frontend programmer sendiri, backend programmer, dan DBA sendiri, tester dan lain sebagainya. Terlihat seperti mencari – cari alasan karena aku juga manusia yang mungkin mencoba mencari keuntungan setinggi – tinggi nya dengan effort serendah – rendahnya.

“…mas bikin aplikasi gini aja kok lama, lagian mahal banget”

Sering memang aku menyelesaikan sebuah project melebihi timeline atau milestone yang seharusnya, pertama aku ingin lebih sempurna dari yang diharapkan client, kedua memang detail dari apa yang seharusnya ada client tidak mau tahu. Nah gimana donk… kenyataannya mereka selalu melihat developer tempatnya salah, developer juga melihat client sebagai pihak yang selalu menuntut dan tuntutannya tidak bisa dimengerti. Yah tidak semua kasus seperti itu dan aku tidak bilang bahwa freelancer seperti itu karena mungkin aku yang amatiran dan tidak bisa menjual diri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s