NAMAKU LIFSTIN

Dia orang yang keras, tak satupun pemikiran orang di sekitarnya sejalan dengan egonya, “kenapa sech ibuk g’ pernah tahu apa mauku”, jerit Lifstin kepada ibunya, tetangga sekitar memperhatikan, tapi Lifstin tidak peduli, itu semua baisa setiap hari, walaupun dalam hatinya dia tahu itu salah, tapi dia tidak bisa menahan emosinya, dia hanya pergi.

Dia berangkat sekolah, di jalan dia bertemu dengan Siska dan Ringgo, 2 temannya yang selalu menentang Lifstin, atau bisa di bilang rivalnya, seperti anjing dan kucing, Ringgo yang sering mengejek Lifstin, “hey chicken whuss,,” dan Siska hanya tertawa, Lifstin hanya memandang tajam mata mereka, bahkan perjalanan menuju sekolahpun tidak mudah buat dia, ejekan itu membuat pribadinya terbentuk keras dan liar, setiap hari dan setiap hari, di sekolahpun seperti itu, semua siswa memanggilnya dengan sebutan chicken whuss.., entah apa hubungannya, itu hanya karena Lifstin agak tomboy dan sedikit hyperactive.

Tekanan itu yang selalu meluapkan amarahnya, bel masuk berbunyi, saat itu pelajaran kimia, gurunya pak Adim, guru yang tidak bisa di toleransi, siswanya selalu tenang saat kelasnya, karena semua siswa segan padanya, saat itu ujian bab Redoks, tak satupun soal selesai di kerjakan oleh Lifstin, padahal waktu 30 menit sudah terbunuh. Tiba – tiba di meja terlempar kertas remasan, kertas itu di lempar oleh Siska dari bangku belakang sebelah kanannya, Lifstin membuka kertas itu dan langsug membacanya, betapa meluap gregetnya membaca tulisan yang berisi, “mau pintar, makannya belajar, chicken whuss g’ belajar ya..idiot”, amarahnya tidak bisa di tahan, diremas kembali kertas itu dan langsung di lempar ke wajah Siska sambil teriak, “aku bukan chicken whuss bodoh..”, jeritan itu menghancurkan ketenangan di kelas, Siska langsung berdiri dan membalas, “hey, apa yang lo lakuin..”, Sebelum kata – kata itu selesai di ucapkan, teriakan Lifstin menebasnya,”Hentikan..”, “ Cukup…!!” teriak pak Adim.

Semua siswa yang tahu sikap pak Adim memang keras, langsung diam. “Lifstin, Siska duduk!!, kalian mengacau di kelas bapak,, tidak ada satu siswa yang berani sebelumnya”, Siska hanya menjawab, “maaf pak”, “diam, bapak tidak suruh bicara”, potong pak Adim, semua kelas tenang, sepi tak ada suara sedikitpun, kecuali detak jam, “tik,,tik,,tik”, “Lifstin kenapa??”, tanya pak Adim.

 Lifstin menunjukkan kertas Siska, pak Adim memang juga tahu kalau “chicken whuss“ yang di maksud adalah Lifstin karena setiap hari mereka memanggilnya begitu. “Cukup semua ini, katakan apa yang ingin kamu katakan”, perintah pak Adim kepada Lifstin,

Lifstin sesaat diam, hingga akhirnya terkumpul semua keberanian dari dalam dirinya untuk di akui orang lain, “Namaku Lifstin, bukan chicken whuss, aku tidak tahu kenapa kalian terus mengejekku, nama ini yang memberikan ibukku, seseorang di dunia ini yang aku sayangi, seseorang yang selalu menjagaku, yang selalu menganggap aku ada lebih dari apapun, walupun aku tidak bisa menunjukkan perasaan itu, tapi tolong hentikan semua ini, maaf lak aku jadi orang yang tidak menyenangkan, tapi aku bisa berubah kan, kita teman kan”.

Air mata itu menetes seiring kata – katanya keluar dari bibir kecilnya. Semua siswa hanya diam, Ringgo berdiri dan bilang “Lifstin maaf ya kalau selama ini ejekanku buat kepribadianmu berubah, aku sadar kamu dulu nggak gini, jadi maaf”, Lifstin langsung jawab “iya gpp”, sambil mengusap air matanya, teman – temannya serentak juga minta maaf, hingga Siska datang di depannya diraihnya tangan Lifstin dan bilang, “maaf ya.. namamu bagus Tin”, Lifstin tersenyum “makasih..”,

“Masalahnya selesai kan?”, kecap pak Adim, “tapi kalian tetap di hukum, Lifstin, Siska sekarang ke lapangan dan hormat bendera merah putih sampai jam pelajaran saya selesai”, mereka hanya menurut, tapi di sisi lain hati Lifstin langsung meleleh, kekacauan itu membunuh 1 jam waktu ujian tadi, pak Adim tak pernah seperti ini sbelumnya, dia bilang “ujian di batalkan, ujian bab Redoks akan di gabung dengan bab selanjutnya”, entah mengapa semua siswa senang, sekali lagi itu semua membawa arti dan semangat buat Lifstin, dalam hatinya teriak sekali lagi, namaku Lifstin, mereka tahu dan akan mengingatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s