Apakah Manusia Sungguh – sungguh Mengenal Allah ?

Apakah manusia sungguh-sungguh mengenal dirinya sendiri? Rasanya tidak. Coba saja kita uji. Apakah manusia tahu berapa banyak andeng-andeng di badannya sendiri? Bisakah ia menjawab? Rasanya tidak. Berapa lembar rambut tumbuh di kepalanya? Tidak tahu. Pertanyaan yang mudah saja: berapa jenis cacing perut yang indekost di ususnya? Tidak tahu juga. Itu semua baru soal fisik yang kasat mata. Bagaimana dengan kekuatan dan kelemahan pribadi seseorang; apakah ia mengenal sepenuhnya akan karakternya sendiri? Mungkin sedikit banyak diketahui, tetapi pasti tidak sepenuhnya. Apakah Allah mengenal setiap manusia? Pemazmur menulis begini: “MataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” (Mzm.139:16) Jadi Allah mengenal setiap manusia sejak bakal-anak sampai hari-hari terakhir hidupnya sebelum semuanya itu terjadi. Luar biasa ! Ini ditegaskan lagi sebab alasannya dengan kata-kata: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (Mzm.139:13). Buah pinggang adalah penghasil hormon adrenalin yang memicu jantung berdenyut untuk pertama kalinya, sampai denyut terakhir menjelang kematian seseorang. Pertanyaannya apakah manusia mengenal Allah? Dan sampai sejauh mana manusia mampu mengenal Allah? Persoalannya terutama karena Allah itu tidak kasat mata. Lalu dari mana manusia mempunyai referensi untuk mengenal Allah, terutama mengenal karakter kepribadian Allah. Secara teoretis dan sebatas wacana saja maka mudah sekali manusia berucap bahwa Allah itu Maha-ini, atau Maha-itu sampai sejauh 99 jenis Maha-anu. Cukupkah itu? Ternyata tidak. Sungguh-sungguh mengenal seseorang bermakna, dan menyiratkan, adanya suatu relasi batiniah dengan orang tersebut. Ada unsur penerimaan (acceptance) di sini. Ia diterima apa adanya, termasuk hal-hal yang baik maupun yang buruk. Kalau kualitas pribadinya serba baik, maka kita cenderung untuk meningkatkan dan melestarikan relasi tersebut. Kita tidak ingin putus hubungan dengannya. Di samping unsur penerimaan juga terdapat unsur kepercayaan dan saling mempercayai. Kita percaya (trust) perkataan sahabat kita. Kita tidak menaruh curiga atau syak wasangka terhadapnya. Kita tidak percaya ia mempunyai agenda tersembunyi. Kita yakin mulutnya dapat dipercaya dan hatinya tulus dalam berkata-kata. Kalau ia menjanjikan sesuatu kita percaya ia akan memenuhi janjinya. Kalau ia mengajukan suatu permintaan kita akan memenuhinya sejauh kemampuan kita. Bila ia menasihati kita, kita percaya akan integritas moralnya sehingga kita mau menuruti nasihatnya itu. Kita yakin menuruti nasihatnya itu akan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi diri kita. Unsur ketiga ialah kesetiaan (fidelity). Karena relasi kita terbina dengan baik, maka kita ingin melestarikan relasi tersebut. Kita mau saling mengisi. Apa yang menjadi kekuranganku akan diisi oleh kekuatannya. Apa yang menjadi kekuatanku akan mengisi kekurangannya. Kita mau saling mengisi, saling memberi dan berbagi, baik dalam suka terlebih lagi dalam duka. Kita ingin selalu setia satu sama lainnya. Bila kita berani mengaku bahwa kita mengenal Allah, apakah kita mampu menjawab semua unsur yang disebutkan di atas? Apakah kita memiliki relasi batiniah yang intim dengan Allah? Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah mau dan akan mengatasi semua problem hidup kita? Kalau demikian mengapa kadang kala kita masih suka mencari solusi masalah kehidupan kita kepada paranormal, orang sakti dsb. Bukankah hal itu berarti orang sakti itu dianggap “lebih sakti” dari Allah sendiri? Ataukah bukan karena kita beranggapan bahwa orang sakti itu lebih tersedia (“available”) atau lebih terjangkau (“accessible”) , atau hasilnya lebih segera “instant” dari pada Allah yang tidak kasat mata, dan yang serba tidak terduga (“unpredictable”) ? Kalau kita sungguh-sungguh mengenal Allah, apakah kita menaruh seluruh harapan (hope; expectancy) kepadaNya? Apakah kita benar-benar setia kepadaNya? Apakah kita mengikuti semua firman dan perintahNya? Kalau semua jawabannya serba ragu-ragu, setengah hati, tidak definitif, masih beranikah kita sesumbar dan mengatakan bahwa kita ini sungguh-sungguh MENGENAL Allah kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s